Mencari

Jumat, 23 Juli 2010

Tali silaturahmi


Menurut Rasulullah, Allah SWT akan melapangkan rezeki orang yang suka menyambung tali silaturahmi. Allah juga akan memanjangkan umur kepadanya

Muhammad Baqir ra pernah mendapat wasiat dari ayahnya (Imam Zainul Abidin, ra). Ia (kata Baqir) telah berwasiat kepadaku, “Janganlah duduk bersama lima jenis manusia. Jangan berbicara kepada mereka, bahkan jangan berjalan bersama mereka, meskipun tidak disengaja.

Pertama, Orang Fasik. Karena ia akan menjualmu hanya untuk sesuap makanan.

Kedua, Orang Bakhil. Karena ia akan memutuskan hubungan di saat kita kita memerlukan.

Ketiga, Pembohong. Karena ia akan menipumu. Karena ia akan senantiasa menipumu.

Keempat, Orang Bodoh. Karena ia berkeinginan memberikan manfaat bagimu, namun karena kebodohannya, ia jutru merugikanmu.

Kelima, Orang yang memutuskan tali silaturahmi. Karenanya, janganlah berdekatan dengannya.

***

Memutus tali silaturahmi adalah sesuatu yang dilarang oleh agama Islam. Dalam Q.S an-Nisa’: 1, Allah berfirman, “Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan mempergunakan nama-namaNya, kamu saling meminta, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi.”

Dalam kitab Ahkam al-Qur’an-nya, Ibnu al-Arabi menafsirkan ayat ini dengan: “Takutlah kepada Allah untuk berdosa kepada-Nya dan takutlah untuk memutus tali silaturahmi”.

Dari Abdullah bin Abi Aufa r.a. berkata, ketika sore hari pada hari Arafah, pada waktu kami duduk mengelilingi Rasulullah saw, tiba-tiba beliau bersabda, “Jika di majelis ini ada orang yang memutuskan silaturahmi, silahkan berdiri, jangan duduk bersama kami.” Dan ketika itu, diantara yang hadir hanya ada satu yang berdiri, dan itupun duduk di kejauhan. Dan dalam waktu yang tidak lama, ia kemudian duduk kembali.

Rasulullah bertanya kepadanya,”Karena diantara yang hadir hanya kamu yang berdiri, dan kemudian kamu datang dan duduk kembali, apa sesungguhnya yang terjadi? Ia kemudian berkata, “Begitu mendengar sabda Engkau, saya segera menemui bibi saya yang telah memutuskan silaturahmi dengan saya. Karena kedatangan saya tersebut, ia berkata, “Untuk apa kamu dating, tidak seperti biasanya kamu dating kemari.” Lalu saya menyampaikan apa yang telah Engkau sabdakan. Kemudian ia memintakan ampunan untuk saya, dan saya meminta ampunan untuknya (setelah kami berdamai, lalu saya datang lagi ke sini).

Lalu Rasulullah bersabda, “Kamu telah melakukan perbuatan yang baik, duduklah, rahmat Allah tidak akan turun ke atas suatu kaum jika di dalamnya ada orang yang memutuskan silaturahmi.”

Rasulullah pernah bersabda,”Tidak ada satu kebaikanpun yang pahalanya lebih cepat diperoleh daripada silaturahmi, dan tidak aka satu dosapun yang adzabnya lebih cepat diperoleh di dunia, disamping akan diperoleh di akherat, melebihi kezaliman dan memutuskan tali silaturahmi.”

Dalam sebuah riwayat lain, dari Anas r.a, ia berkata bahwa Rasullah saw bersabda, “Barangsiapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dilamakan bekas telapak kakinya (dipanjangkan umurnya), hendaknya ia menyambung tali silaturahmi. [Mutafaq ‘alaih]

Ali r.a meriwayatkan dalam sebuah hadist, “Barangsiapa yang mengambil tanggungjawab atas suatu perkara, aku akan menjamin baginya empat perkara. Barangsiapa bersilaturahmi, umurnya akan dipanjangkan, kawan-kawannya akan cinta kepadanya, rezekinya akan dipalangkan, dan ia aman masuk ke dalam surga. (Kanzul ‘Ummal).

Al-Qurthubi mengatakan, “Seluruh agama sepakat bahwa menyambung silaturahmi wajib dan memutuskannya diharamkan“. Ibnu Abidin al-Hanafi mengatakan;”Menyambung silaturahmi wajib meskipun hanya dengan mengucapkan salam, memberi hadiah, memberi pertolongan, duduk bareng, ngobrol, bersikap ramah dan berbuat baik. Kalau seseorang yang hendak disilaturahmi berada di lain tempat cukup dengan berkirim surat, namun lebih afdol kalau ia bisa berkunjung ke tempat tinggalnya”.

Orang yang menyambung silaturahmi akan mendapat balasan di dunia berupa: kedekatan kepada Allah, rezekinya diluaskan, umurnya dipanjangkan, rumahnya dimakmurkan, tercegah dari mati dengan cara tidak baik, dicintai Allah dan dicintai keluarganya.

Yang lebih penting dari itu semua, di akhirat kelak, ia akan mendapat balasan surga dari Allah SWT: Rasulullah ditanya oleh seorang sahabat, “Wahai Rasulullah kabarkanlah kepadaku amal yang dapat memasukkan akan ke surga”. Rasulullah menjawab; “Engkau menyembah Allah, jangan menyekutukan-Nya dengan segala sesuatu, engkau dirikan shalat, tunaikan zakat dan engkau menyambung silaturahmi“. (HR. Bukhari).

Dan yang terakhir, Rasulullah pernah berkata pada sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq r.a bahwa tiga perkara berikut ini benar adanya. Pertama, barangsiapa yang dizalimi kemudian ia memaafkan, maka kemuliannya akan bertambah. Kedua, barangsiapa yang meminta-minta untuk meningkatkan hartanya, maka, hartanya akan berkurang. Ketiga, barangsiapa yang membuka pintu pemberian dan silaturahmi, maka hartanya kan bertambah.

Adab Mulia Menasehati Saudara Kita

Nasehat menasehati menuju kebenaran harus digalakkan, bagi yang dinasehati seharusnya ia berterima kasih kepada orang yang telah menunjukkan kekurangan dan kesalahannya, hanya saja hal ini jarang terjadi, pada umumnya manusia tidak suka disalahkan apalagi kalau teguran itu disampaikan kepadanya dengan cara yang tidak baik.

Seorang pemberi nasehat haruslah mengetahui metode yang baik agar nasehatnya dapat diterima oleh orang lain. Diantara metode nasehat yang baik adalah memberi nasehat kepada orang lain secara rahasia tanpa diketahui oleh orang lain. Dalam kesempatan ini akan kami nukilkan penjelasan para ulama tentang adab yang satu ini. Imam Ibnu Hibban (wafat tahun 534 H) berkata, Nasehat itu merupakan kewajiban manusia semuanya, sebagaimana telah kami sebutkan sebelum ini, tetapi dalam teknik penyampaiannya haruslah dengan cara rahasia, tidak boleh tidak, karena barangsiapa yang menasehati saudaranya dihadapan orang lain maka berarti dia telah mencelanya, dan barangsiapa yang menasehatinya secara rahasia maka dia telah memperbaikinya. Sesungguhnya menyampaikan dengan penuh perhatian kepada saudaranya sesama muslim adalah kritik yang membangun, lebih besar kemungkinannya untuk diterima dibandingkan menyampaikan dengan maksud mencelanya.

Kemudian Imam Ibnu Hibban menyebutkan dengan sanadnya sampai kepada Sufyan, ia berkata, Saya berkata kepada Mis”ar, ”Apakah engkau suka apabila ada orang lain memberitahumu tentang kekurangan-kekuranganmu?” Maka ia berkata, ”Apabila yang datang adalah orang yang memberitahukan kekurangan-kekuranganku dengan cara menjelek-jelekkanku maka saya tidak senang, tapi apabila yang datang kepadaku adalah seorang pemberi nasehat maka saya senang”.

Kemudian Imam Ibnu Hibban berkata bahwa Muhammad bin Said al Qazzaz telah memberitahukan kepada kami, Muhammad bin Mansur telah menceritakan kepada kami, Ali ibnul Madini telah menceritakan kepadaku, dari Sufyan ia berkata, Talhah datang menemui Abdul Jabbar bin Wail, dan di situ banyak terdapat orang, maka ia berbicara dengan Abdul Jabbar menyampaikan sesuatu dengan rahasia, kemudian setelah itu beliau pergi. Maka Abdul Jabbar bin Wail berkata, ”Apakah kalian tahu apa yang ia katakan tadi kepadaku?” Ia berkata, ”Saya melihatmu ketika engkau sendang shalat kemarin sempat melirik ke arah lain”.

Imam Ibnu Hibban berkata, Nasehat apabila dilaksanakan seperti apa yang telah kami sebutkan akan melanggengkan kasih sayang, dan menyebabkan terealisasinya ukhuwah.

Imam Ibnu Hazm (wafat tahun 456H) berkata, Maka wajib atas seseorang untuk selalu memberi nasehat, baik yang diberi nasehat itu suka ataupun benci, tersinggung atau tidak tersinggung. Apabila engkau memberi nasehat maka nasehatilah secara rahasia, jangan dihadapan orang lain, dan cukup dengan memberi isyarat tanpa terus terang secara langsung, kecuali apabila orang yang dinasehati tidak memahami isyaratmu maka harus secara terus terang. Janganlah engkau menasehati orang lain dengan syarat nasehatmu harus diterima. Apabila engkau melampaui adab-adab tadi maka engkau yang dzalim bukan pemberi nasehat, dan gila ketaatan serta gila kekuasaan bukan pemberi amanat dan pelaksana hak ukuwah. Ini (-yakni memberi nasehat dengan syarat harus diterima-) bukanlah termasuk hukum akal dan hukum persahabatan melainkan hukum rimba, bagaikan seorang penguasa dengan rakyatnya dan tuan dengan hamba sahayanya.

Imam Ibnu Rajab (wafat tahun 795H) berkata, Al Fudhail (wafat tahun 187H) berkata, ”Seorang mukmin menutup (aib saudaranya) dan menasehatinya sedangkan seorang fajir (pelaku maksiat) membocorkan (aib saudaranya) dan memburuk-burukkannya”.

Apa yang disebutkan oleh al Fudhail ini merupakan ciri antara nasehat dan memburuk-burukkan, yaitu bahwa nasehat itu dengan cara rahasia sedangkan menjelek-jelekkan itu ditandai dengan penyiaran. Sebagaimana dikatakan, ”Barangsiapa mengingatkan saudaranya ditengah-tengah orang banyak maka ia telah menjelek-jelekkannya.

Dan orang-orang salaf membenci amar ma”ruf nahi mungkar secara terang-terangan, mereka suka kalau dilakukan secara rahasia antara yang menasehati dengan yang dinasehati, ini merupakan ciri nasehat yang murni dan ikhlash, karena si penasehat tidak mempunyai tujuan untuk menyebarkan aib-aib orang yang dinasehatinya, ia hanya mempunyai tujuan menghilangkan kesalahan yang dilakukannya.

Sedangkan menyebarluaskan dan menampakkan aib-aib orang lain maka hal tersebut yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Allah Ta”ala berfirman: Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Alleh mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui.” (An Nur : 19).

Dan hadits-hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menutup aib seorang muslim tidak terhitung banyaknya.

Imam Syafi”i (wafat tahun 204H) berkata dalam syairnya:
Hendaklah engkau sengaja mendatangiku untuk memberi nasehat ketika aku sendirian
Hindarilah memberi nasehat kepadaku ditengah khalayak ramai
Karena sesungguhnya memberi nasehat dihadapan banyak orang sama saja dengan memburuk-burukkan, saya tidak suka mendengarnya
Jika engkau menyalahi saya dan tidak mengikuti ucapanku maka janganlah engkau kaget apabila nasehatmu tidak ditaati.


Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin berkata, Perlu diketahui bahwa nasehat itu adalah pembicaraan yang dilakukan secara rahasia antaramu dengannya, karena apabila engkau menasehatinya secara rahasia dengan empat mata maka sangat membekas pada dirinya, dan dia tahu bahwa engkau pemberi nasehat, tetapi apabila engkau bicarakan dia dihadapan orang banyak maka besar kemungkinan bangkit kesombongannya yang menyebabkan ia berbuat dosa dengan tidak menerima nasehat, dan mungkin pula ia menyangka bahwa engkau hanya ingin balas dendam dan mendeskreditkannya serta untuk menjatuhkan kedudukannya di mata manusia, sehingga ia tidak menerima isi nasehat tersebut, tetapi apabila dilakukan secara rahasia antara kamu dan dia berdua maka nasehatmu itu amat berarti bagi dia, dan dia akan menerimanya darimu.

Kapan dibolehkan memberi nasehat dihadapan orang lain?

Walaupun demikian ada beberapa perkecualian yang membolehkan atau mengharuskan seseorang untuk menasehati orang lain di depan banyak orang.

Salah seorang Imam Masjid di kota Khobar Saudi Arabia dalam salah satu khutbah Jum”ahnya mengatakan, Umat Islam, mereka itu memiliki kehormatan dan harga diri, oleh karena tiu haruslah kita menjaga hak-hak dan kehormatan mereka, haruslah kita memelihara perasaan mereka, tetapi kadang-kadang sesuatu nasehat yang akan engkau sampaikan kepada orang lain apabila engkau tunda, maka akan terlambat, maka harus sekarang juga engkau menasehatinya sebelum terlambat. Contohnya sebagaimana terdapat dalam Shahih Muslim. Dari Jabir bahwasanya ia berkata, ”Sulaik al Ghathafani datang (ke masjid) hari Jum”ah dan Rasulullah shallallahu ”alaihi wasallam sedang duduk di atas mimbar, maka Sulaik langsung duduk tanpa shalat terlebih dahulu, maka Rasulullah shallallahu ”alaihi wasallam bertanya kepadanya, ”Apakah engaku telah melaksanakan sholat dua rakaat?” Ia berkata, ”Belum” Maka beliau shallallahu ”alaihi wasallam memerintahkan kepadanya, ”Bangunlah dan shalatlah dua rakaat”.”

Ini bukannya sedang memburuk-burukkan atau menyiarkan kesalahan orang tersebut, karena saat itu adalah waktu yang tepat untuk menasehatinya, apabila dibiarkan maka akan terlewatkan, karena Rasulullah shallallahu ”alaihi wasallam memerintahkan setiap muslim yang masuk ke dalam masjid agar shalat dua rakaat terlebih dahulu sebelum ia duduk, perintah tersebut mengharuskan untuk dilaksanakan padaa saat itu juga tidak bisa ditunda sampai selesai shalat Jum”ah.

Akan tetapi apabila memungkinkan bagimu untuk menunda nasehat sampai selesainya majelis lalu engkau menasiehati sesreorang dihadapan orang lain di majelis tersebut maka hal ini tidak benar.

Sangat disayangkan sekali ketika kita mendengar tentang orang-orang yang termasuk memiliki kesungguhan dalam mencari dan menerima kebenaran, akan tetapi mereka berpecah belah, masing-masing di antara mereka memiliki nama dan sifat tertentu. Fenomena seperti ini sesungghunya tidak benar, dan sesungguhnya dien Allah itu satu dan ummat Islam adalah ummat yang satu, Allah berfirman: “Sesunggunya (agama tauhid) ini adalah agama kalian semua, agama yang satu dan Aku adalah Rab kalian maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al Mu-minun: 52)

Dan Allah Ta”ala berfirman kepada nabi-Nya shallallahu ”alaihi wasallam:
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. (Al An”am : 159)

Dan Allah Ta”ala berfirman, “Dia telah mensyaratkan bagi kalian tentang dien yang telah diwasiatkan kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu tegakkanlah dien dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” (Asy Syura: 13).

Apabila hal ini merupakan bimbingan Allah kepada kita maka seharusnya kita praktekkan bimbingan ini, kita berkumpul untuk mengadakan suatu pembahasan, saling berdiskusi dalam rangka ishlah (perbaikan) bukan untuk mendeskreditkan atau membalas dendam, karena sesungguhnya siapa saja yang membantah orang lain atau adu argumentasi dengan maksud mempertahankan pendapatnya atau untuk menghinakan pendapat orang lain dan bermaksud untuk mencela bukan untuk ishlah maka hasilnya tidak di ridhai oleh Allah dan rasul-Nya, pada umumnya demikian.

Kewajiban kita adalah untuk menjadi umat yang satu, kita tidak mengatakan bahwa setiap manusia tidak memiliki kesalahan, bahkan manusia itu memiliki kesalahan disamping memiliki kebenaran. Hanya saja pembicaraan kita sekarang ini mengenai cara memperbaiki kesalahan, maka bukan cara yang benar untuk memperbaiki kesalahan apabila kita menyebutkannya dibelakang orang tersebut sambil menjelek-jelekkannya, akan tetapi cara yang benar untuk memperbaikinya adalah berkumpul dengannya dan mendiskusikannnya, apabila terbukti setelah itu bahwa orang tersebut tetap mempertahankan kebatilannya maka saat itu kita memiliki alasan bahkan wajib atas kita untuk menjelaskan kesalahannya, dan memperingatkan manusia dari kesalahan orang tersebut, dengan demikian urusan-urusan menjadi baik.

Sedangkan perpecahan dan bergolong-golongan maka sesungguhnya yang demikian tidak disukai oleh siapapun, kecuali oleh musuh-musuh Islam dan musuh kaum muslimin.

Rabu, 21 Juli 2010

Apapun Kesulitannya, Hadapi dan Nikmati !


”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak duji lagi?

Q.S. Al-Ankabuut [29]: 2

Modal yang diperlukan untuk memulai suatu kemajuan adalah kemauan, keberanian dan pengetahuan. Sedangkan kekuatan untuk mempertahankannya adalah kejujuran, komitmen, inovasi, dan kesabaran.

Jangan pernah menghindari tantangan, melompatlah ke dalamnya dan taklukanlah. Nikmatilah permainannya. Jika tantangan yang Anda hadapi terlalu besar atau terlalu banyak, jangan menyerah. Kegagalan tidak boleh membuat Anda lelah. Sebaliknya, atur kembali strategi Anda. Temukanlah lebih banyak lagi keteguhan, pengetahuan, dan bantuan.

Jika Anda telah mencapai tujuan Anda, rencanakanlah tujuan yang lebih besar lagi. Begitu kebutuhan pribadi atau keluarga Anda terpenuhi, berpindahlah kepada tujuan kelompok Anda, masyarakat, bahkan umat. Malaikat akan mencatat setiap kebaikan Anda yang membuat orang lain merasa bahagia dan tertolong. Sehingga kesuksesan Anda pun menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya meski Anda telah meninggal.

Jangan menciptakan kesuksesan kemudian Anda tidur nyenyak di dalamnya. Anda memiliki sumber daya, keahlian, dan kemampuan untuk menciptakan kemajuan. Ingatlah bahwa ALLAH menyembunyikan nikmat-Nya yang luar biasa di balik setiap kesulitan dan tantangan. Sementara syaithan mengalihkan perhatian Anda dari kenikmatan itu dengan menimbulkan rasa khawatir, was-was, takut gagal, minder, dan tergesa-gesa dalam diri Anda.

Jika ALLAH menginginkan seorang hamba menjadi orang yang kuat, Dia akan mengujinya dengan ujian dan tantangan kesulitan yang berat. Kemampuan mengatasi tantangan itulah yang akan menjadikannya kuat.

AmbiLah Resiko Itu...!!!

”Agar ALLAH Memberi pembalasan kepada tiap-tiap orang terhadap apa yang ia usahakan. Sesungguhnya ALLAH Maha Cepat hisab-Nya.”

Q.S. Ibrahim [14]: 51

Apapun sikap dan keputusan yang kita tetapkan untuk diri kita, pastilah memiliki risiko. Tergambar di benak sebagian kita bahwa setiap risiko adalah sesuatu yang buruk. Padahal ia merupakan tantangan yang mendidik dan akan memberi banyak pelajaran, sehingga pikiran terlatih untuk kreatif mencari solusi.

Sayyidina ’Ali bin Abu Thalib pernah mengatakan bahwa dari seratus jenis risiko dan kesulitan yang timbul dalam pikiran sebelum melakukan suatu tindakan, yang merupakan risiko yang benar-benar akan terjadi tidak lebih dari sepersepuluhnya saja.

Kehidupan yang kita jalani adalah proses kita untuk memecahkan setiap masalah dan mengatasi setiap risiko yang akan muncul. Adanya masalah dan kesulitan merupakan bukti adanya kehidupan. Jika tidak ada masalah dan kesulitan maka tidak akan ada kehidupan yang sebenarnya.

Jika seorang ibu tidak berani mengambil risiko rasa sakit dan letih, maka tidak ada anak yang lahir di dunia ini. Jika seorang anak tidak berani mengambil risiko untuk jatuh, maka anak itu tidak akan bisa berjalan. Jika seorang pengusaha tidak berani mengambil risiko untuk memulai bisnis, maka tidak ada pengusaha sukses di dunia ini.

Semuanya berawal dari kemauan dan keberanian kita untuk siap mengambil risiko. Ingat! Mengambil risiko!! Bukan menerima risiko !!

Nikmat Allah yg sering Terlupa


Dua Nikmat yang Sering Terlupa

Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dan memberikan kenikmatan yang tidak terhingga. Manusia tidak akan mampu menghitungnya.

Allah berfirman:

وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. An-Nahl: 18)


NIKMAT SEHAT

Di antara kenikmatan Allah yang sangat banyak adalah kesehatan. Kesehatan merupakan kenikmatan yang diakui setiap orang, memiliki nilai yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan hal ini dengan sabdanya:

مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ مُعَافًى فِي جَسَدِهِ آمِنًا فِي سِرْبِهِ عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا
“Barangsiapa di antara kamu masuk pada waktu pagi dalam keadaan sehat badannya, aman pada keluarganya, dia memiliki makanan pokoknya pada hari itu, maka seolah-olah seluruh dunia dikumpulkan untuknya.” (HR. Ibnu Majah, no: 4141; dan lain-lain; dihasankan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush Shaghir, no: 5918)
Kita melihat kenyataan manusia yang rela mengeluarkan biaya yang besar untuk berobat, ini bukti nyata mahalnya kesehatan yang merupakan kenikmatan dari Allah Ta’ala.

Akan tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenikmatan kesehatan ini, dia akan ingat jika kesehatan hilang darinya.
Diriwayatkan bahwa seseorang mengadukan kemiskinannya dan menampakkan kesusahannya kepada seorang ‘alim. Maka orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau senang menjadi buta dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi bisu dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang yang tidak punya kedua tangan dan kedua kaki dengan mendapatkan 20 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata lagi: “Apakah engkau senang menjadi orang gila dengan mendapatkan 10 ribu dirham?”, dia menjawab: “Tidak”. Orang ‘alim itu berkata: “Apakah engkau tidak malu mengadukan Tuanmu (Allah subhanahu wa ta’ala ) sedangkan Dia memiliki harta 50 ribu dinar padamu”. (Lihat: Mukhtashar Minhajul Qashidin, hlm: 366)


DUA KENIKMATAN, BANYAK MANUSIA TERTIPU
Oleh karena itulah seorang hamba hendaklah selalu mengingat-ingat kenikmatan Allah yang berupa kesehatan, kemudian bersyukur kepada-Nya, dengan memanfaatkannya untuk ketaatan kepada-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi, sebagaimana hadits di bawah ini:


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ (خ 593
“Dari Ibnu Abbas, dia berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari, no: 5933)
Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata: “Kenikmatan adalah keadaan yang baik, ada yang mengatakan kenikmatan adalah manfaat yang dilakukan dengan bentuk melakukan kebaikan untuk orang lain.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, penjelasan hadits no: 5933)

Kata “maghbuun” secara bahasa artinya tertipu di dalam jual-beli, atau lemah fikiran.

Al-Jauhari rahimahullah: “Berdasarkan ini, kedua (makna itu) bisa dipakai di dalam hadits ini. Karena sesungguhnya orang yang tidak menggunakan kesehatan dan waktu luang di dalam apa yang seharusnya, dia telah tertipu, karena dia telah menjual keduanya dengan murah, dan fikirannya tentang hal itu tidaklah terpuji.” (Fathul Bari)


Ibnu Baththaal rahimahullah berkata: “Makna hadits ini bahwa seseorang tidaklah menjadi orang yang longgar (punya waktu luang) sehingga dia tercukupi (kebutuhannya) dan sehat badannya. Barangsiapa yang dua perkara itu ada padanya, maka hendaklah dia berusaha agar tidak tertipu, yaitu meninggalkan syukur kepada Allah terhadap nikmat yang telah Dia berikan kepadanya. Dan termasuk syukur kepada Allah adalah melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi lara
ngan-larangan-Nya. Barangsiapa melalaikan hal itu maka dia adalah orang yang tertipu.” (Fathul Bari)

Kemudian sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di atas “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” ini mengisyaratkan bahwa orang yang mendapatkan taufiq (bimbingan) untuk itu, orangnya sedikit.

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata: “Kadang-kadang manusia itu sehat, tetapi dia tidak longgar, karena kesibukannya dengan penghidupan. Dan kadang-kadang manusia itu cukup (kebutuhannya), tetapi dia tidak sehat. Maka jika keduanya terkumpul, lalu dia dikalahkan oleh kemalasan melakukan kataatan, maka dia adalah orang yang tertipu. Kesempurnaan itu adalah bahwa dunia merupakan ladang akhirat, di dunia ini terdapat perdagangan yang keuntungannya akan nampak di akhirat.

Maka barangsiapa menggunakan waktu luangnya dan kesehatannya di dalam ketaatan kepada Allah, maka dia adalah orang yang pantas diirikan. Dan barangsiapa menggunakan keduanya di dalam maksiat kepada Allah, maka dia adalah orang yang tertipu. Karena waktu luang akan diikuti oleh kesibukan, dan kesehatan akan diikuti oleh sakit, jika tidak terjadi maka masa tua (pikun).

Sebagaimana dikatakan orang “Panjangnya keselamatan (kesehatan) dan tetap tinggal (di dunia) menyenangkan pemuda. Namun bagaimanakah engkau lihat panjangnya keselamatan (kesehatan) akan berbuat? Akan mengembalikan seorang pemuda menjadi kesusahan jika menginginkan berdiri dan mengangkat (barang), setelah (sebelumnya di waktu muda) tegak dan sehat.” (Fathul Bari)
Ath-Thayyibi rahimahullah berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membuat gambaran bagi mukallaf (orang yang berakal dan dewasa) dengan seorang pedagang yang memiliki modal. Pedagang tersebut mencari keuntungan dengan keselamatan modalnya. Maka caranya dalam hal itu adalah dia memilih orang yang akan dia ajak berdagang, dia selalu menetapi kejujuran dan kecerdikan agar tidak merugi. Kesehatan dan waktu luang adalah modal, seharusnya dia (mukallaf) berdagang dengan Allah dengan keimanan, berjuang menundukkan hawa-nafsu dan usuh agama, agar dia mendapatkan keberuntungan kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini seperti firman Allah:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنجِيكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Qs. As-Shaaf: 10) dan ayat-ayat berikutnya.
Berdasarkan itu dia wajib menjauhi ketatan kepada hawa-nafsu dan berdagang/kerja-sama dengan setan agar modalnya tidak sia-sia bersama keuntungannya.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam hadits tersebut “kebanyakan manusia tertipu pada keduanya” seperti firman Allah:

وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Qs. Sabaa’: 13)

“Kebanyakan” di dalam hadits itu sejajar dengan “sedikit” di dalam ayat tersebut.” (Fathul Bari)

Al-Qadhi Abu Bakar bin Al-‘Arabi rahimahullah berkata: “Diperselisihkan tentang kenikmatan Allah yang pertama (yakni yang terbesar) atas hamba. Ada yang mengatakan “keimanan”, ada yang mengatakan “kehidupan”, ada yang mengatakan “kesehatan”. Yang pertama (yaitu keimanan) lebih utama, karena hal itu kenikmatan yang mutlak (menyeluruh). Adapun kehidupan dan kesehatan, maka keduanya adalah kenikmatan duniawi, dan tidak menjadi kenikmatan yang sebenarnya kecuali jika disertai oleh keimanan. Dan di waktu itulah banyak manusia yang merugi, yakni keuntungan mereka hilang atau berkurang. Barangsiapa mengikuti hawa-nafsunya yang banyak memerintahkan keburukan, selalu mengajak rileks, sehingga dia meninggalkan batas-batas (Allah) dan meninggalkan menekuni ketaatan, maka dia telah merugi. Demikian juga jika dia lonnggar, karena orang yang sibuk kemungkinan memiliki alasan, berbeda dengan orang yang longgar, maka alasan hilang darinya dan hujjah (argumen) tegak atasnya.” (Fathul Bari)

Maka sepantasnya hamba yang berakal bersegera beramal shalih selama kesempatan masih ada. Hanya Allah Tempat memohon pertolongan.
Penulis: Ustadz Muslim Atsari

Senin, 19 Juli 2010

Untukmu wahai Ukhti

Dengarlah wahai Akhwatfillah,,

Ukhtifillah….
(Surat Terbuka Seorang Ikhwan untuk Seluruh Akhwat di Dunia)

Ukhtifillah,
Mungkin aku memang tak romantis tapi siapa
peduli?
Karena toh kau tak mengenalku dan memang tak
perlu mengenalku.
Bagiku kau bunga, tak mampu aku samakanmu
dengan bunga terindah sekalipun.
Bagiku manusia adalah makhluk yang terindah,
tersempurna dan tertinggi.
Bagiku dirimu salah satu dari semua itu,
karenanya kau tak membutuhkan persamaan.
Ukhtifillah,
Jangan pernah biarkan aku manatapmu penuh,
karena akan membuatku mengingatmu.
Berarti memenuhi kepalaku dengan inginkanmu.
Berimbas pada tersusunnya gambarmu dalam tiap
dinding khayalku.
Membuatku inginkanmu sepenuh hati, seluruh jiwa,
sesemangat mentari.
Kasihanilah dirimu jika harus hadir dalam khayalku
yang masih penuh Lumpur.
Karena sesungguhnya dirimu terlalu suci.

Ukhtifillah,
Berdua menghabiskan waktu denganmu bagaikan
mimpi tak berujung.
Ada ingin tapi tak ada henti.
Menyentuhmu merupakan ingin diri, berkelebat
selalu, meski ujung penutupmu pun tak berani
kusentuh.
Jangan pernah kalah dengan mimpi dan inginku
karena sucimu kaupertaruhkan.
Mungkin kau tak peduli
Tapi kau hanya menjadi wanita biasa di hadapanku
bila kau kalah.
Dan tak lebih dari wanita biasa.

Ukhtifillah,
Jangan pernah kautatapku penuh
Bahkan tak perlu kaulirikkan matamu untuk
melihatku.
Bukan karena aku terlalu indah, tapi karena aku
seorang yang masih kotor.
Aku biasa memakai topeng keindahan pada wajah
burukku, mengenakan pakaian sutra emas.
Meniru laku para rahib, meski hatiku lebih kotor
dari Lumpur.
Kau memang suci, tapi masih sangat mungkin kau
termanipulasi.
Karena kau toh hanya manusia-hanya wanita.

Ukhtifillah,
Beri sepenuh diri pada dia sang lelaki suci yang
dengan sepenuh hati membawamu kehadapan
Rabbmu.
Untuknya dirimu ada, itu kata otakku, terukir dalam
Al-Qur’an, tak perlu dipikir lagi.
Tunggu sang lelaki itu menjemputmu, dalam
rangkaian khitbah dan akad yang indah.
Atau kejar sang lelaki suci itu, karena itu adalah
hakmu, seperti dicontohkan ibunda Khadijah.
Jangan ada ragu, jangan ada malu, semua terukir
dalam Al-Qur’an.

Ukhtifillah,
Bariskan harapanmu pada istikharah sepenuh hati
ikhlas.
Relakan Allah pilihkan lelaki suci untukmu,
mungkin sekarang atau nanti, bahkan mungkin tak
ada sampai kau mati.
Mungkin itu berarti dirimu terlalu suci untuk semua
lelaki di fana saat ini.
Mungkin lelaki suci itu menanti di istana kekalmu,
yang kaubangun dengan segala kekhusyu’an
tangis do’amu.

Ukhtifillah,
Pilihan Allah tak selalu seindah inginmu, tapi itu
pilihan-Nya.
Tak ada yang lebih baik dari pilihan Allah.
Mungkin kebaikan itu bukan pada lelaki yang
terpilih itu, melainkan pada jalan yang kaupilih,
seperti kisah seorang wanita sudi di masa lalu
yang meminta ke-Islam-an sebagai mahar
pernikahannya.
Atau mungkin kebaikan itu terletak pada
keikhlasanmu menerima keputusan Sang Kekasih
Tertinggi.
Kekasih tempat kita memberi semua cinta dan
menerima cinta
dalam setiap denyut nadi kita.

Allah Knows

When you feel all alone in this world

And there’s nobody to count your tears

Just remember, no matter where you are

Allah knows

Allah knows

When you carrying a monster load

And you wonder how far you can go

With every step on that road that you take

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

When you find that special someone

Feel your whole life has barely begun

You can walk on the moon, shout it to everyone

Allah knows

Allah knows

When you gaze with love in your eyes

Catch a glimpse of paradise

And you see your child take the first breath of life

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

When you lose someone close to your heart

See your whole world fall apart

And you try to go on but it seems so hard

Allah knows

Allah knows

see we all have a path to choose

Through the valleys and hills we go

With the ups and the downs, never fret never frown

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

Every grain of sand,

In every desert land, He knows.

Every shade of palm,

Every closed hand, He knows.

Every sparkling tear,

On every eyelash, He knows.

Every thought I have,

And every word I share, He knows.

Allah knows.

Ketika Anda merasa sendirian di dunia ini

Dan tidak ada seorang pun untuk menghitung air matamu

Hanya ingat, tak peduli di mana Anda berada

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda membawa beban yang berat

Dan Anda bertanya-tanya seberapa jauh Anda bisa pergi

Dengan setiap langkah di jalan itu yang Anda ambil

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Tidak peduli apa pun, di dalam atau di luar

Ada satu hal yang tidak ada keraguan

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Dan apa pun yang terletak di langit dan bumi

Setiap bintang di seluruh alam semesta ini

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Bila Anda menemukan seseorang yang istimewa

Merasakan seluruh kehidupan Anda telah hampir bermula

Anda dapat berjalan di bulan, berteriak kepada setiap orang

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda menatap dengan cinta di matamu

Melihat sekilas surga

Dan Anda melihat anak Anda mengambil napas kehidupan pertama

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda kehilangan seseorang yang dekat dengan hati

Lihat seluruh dunia Anda hancur berantakan

Dan Anda mencoba untuk terus bangkit tapi sepertinya begitu sulit

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Anda lihat kita semua memiliki jalan untuk memilih

Melalui lembah-lembah dan bukit-bukit kita pergi

Dengan jatuh dan bangun dengan tidak pernah risau serta berkerut

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Setiap butir pasir,

Dalam setiap gurun tanah, Dia tahu.

Setiap warna sawit,

Setiap tertutup tangan, Dia tahu.

Setiap berkilau air mata,

Di setiap bulu mata, Dia tahu.

Setiap pikir saya miliki,

Dan setiap kata saya berbagi, Dia tahu.

Allah mengetahui



When you feel all alone in this world

And there’s nobody to count your tears

Just remember, no matter where you are

Allah knows

Allah knows


When you carrying a monster load

And you wonder how far you can go

With every step on that road that you take

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

When you find that special someone

Feel your whole life has barely begun

You can walk on the moon, shout it to everyone

Allah knows

Allah knows

When you gaze with love in your eyes

Catch a glimpse of paradise

And you see your child take the first breath of life

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

When you lose someone close to your heart

See your whole world fall apart

And you try to go on but it seems so hard

Allah knows

Allah knows

see we all have a path to choose

Through the valleys and hills we go

With the ups and the downs, never fret never frown

Allah knows

Allah knows

No matter what, inside or out

There’s one thing of which there’s no doubt

Allah knows

Allah knows

And whatever lies in the heavens and the earth

Every star in this whole universe

Allah knows

Allah knows

Every grain of sand,

In every desert land, He knows.

Every shade of palm,

Every closed hand, He knows.

Every sparkling tear,

On every eyelash, He knows.

Every thought I have,

And every word I share, He knows.

Allah knows.

Ketika Anda merasa sendirian di dunia ini

Dan tidak ada seorang pun untuk menghitung air matamu

Hanya ingat, tak peduli di mana Anda berada

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda membawa beban yang berat

Dan Anda bertanya-tanya seberapa jauh Anda bisa pergi

Dengan setiap langkah di jalan itu yang Anda ambil

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Tidak peduli apa pun, di dalam atau di luar

Ada satu hal yang tidak ada keraguan

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Dan apa pun yang terletak di langit dan bumi

Setiap bintang di seluruh alam semesta ini

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Bila Anda menemukan seseorang yang istimewa

Merasakan seluruh kehidupan Anda telah hampir bermula

Anda dapat berjalan di bulan, berteriak kepada setiap orang

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda menatap dengan cinta di matamu

Melihat sekilas surga

Dan Anda melihat anak Anda mengambil napas kehidupan pertama

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Ketika Anda kehilangan seseorang yang dekat dengan hati

Lihat seluruh dunia Anda hancur berantakan

Dan Anda mencoba untuk terus bangkit tapi sepertinya begitu sulit

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Anda lihat kita semua memiliki jalan untuk memilih

Melalui lembah-lembah dan bukit-bukit kita pergi

Dengan jatuh dan bangun dengan tidak pernah risau serta berkerut

Allah mengetahui

Allah mengetahui

Setiap butir pasir,

Dalam setiap gurun tanah, Dia tahu.

Setiap warna sawit,

Setiap tertutup tangan, Dia tahu.

Setiap berkilau air mata,

Di setiap bulu mata, Dia tahu.

Setiap pikir saya miliki,

Dan setiap kata saya berbagi, Dia tahu.

Allah mengetahui

“Allah Knows”

(By Zain Bhikha)

It’s Beautiful Nasheed


Minggu, 18 Juli 2010

Jilbab Kita

About Jilbab..
Dikutip dari buku “Gara-gara Jilbabku?” Karya Asma Nadia, dkk

katakan dengan lantang I’m a Jilbabers and I’m proud of it..^_^
Mari kita jilbabkan diri, jilbabkan hati, dengan ikhlas, karena jilbab adalah sebuah aturan perlindungan Allah..


Q.S Al-Ahzab ayat 59: Perintah Menggunakan Jilbab
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
[1232]. Jilbab ialah sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada yg tidak ketat, tidak transparan dan tidak menyerupai laki2.

Q.S An-Nur: 30-31 Batasan Aurat antara Pria dan Wanita
“Katakanlah kepada orang-orang laki-laki yang beriman “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, apa yang mereka perbuat.” “Katakanlah kepada wanita yang beriman :”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita), atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka meukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Mereka bilang,,Akhwat berjilbab itu..

*Seandainya jilbab bukan kewajiban, bagi saya jilbab tetap memberi keindahan lain. Tapi sayang, masih ada yang melihat jilbab dari sisi syar’i semata. Mereka tidak peduli pada warna, motif, apalagi bentuk. Apakah warna, motif, dan bentuk merupakan keharusan berjilbab? TIDAK. Tapi kenapa harus alergi dengan penawaran-penawaran seperti itu? Allah menciptakan keindahan dalam bentuk wanita, dengan segala batasan-batasannya. Kita menjaga dan menambah keindahan itu, dengan segala batasan-batasannya. (Biru laut, Penulis buku “Aku Begitu Mencintaimu”)


*Kalo ingat masa SMA, akhwat berjilbab terlihat lebih terjaga, menyejukkan pandangan, dan insya Allah bisa diandalkan. Kalau ada, saya pesan satu ya?..hehehe, serius neh! (Widhi Saputro, Ilustrator)

*Cewek berjilbab itu..cantik tenan, Rek! Yap, mau keningnya lebar kaya pematang sawah, mau hidunyya pesek kayak ragi masuk angin, mau pipinya jerawaan kaya korban perang bintang, bagi saya, mereka tetap cantik. Inner beauty yang keluar dari cewek berjilbab bukan bernama fisik, tapi bernama iman dan pemahaman yang dalam. Lagipula, saya yakin, cewek berjilbab itu lebih dihargai Allah ketimbang yang tidak, karena mereka patuh pada titah Allah SWT, bukan semata keinginannya saja. (Asa Mulchias, Penulis buku “Kuntilanak, Here I Come!”

*Menyamaratakan semua jilbabers adalah sebuah kesia-siaan. Persamaan mereka adalah, mereka menutup aurat untuk menjalankan perintah Allah. kalau mereka juga menjilbabi hati dan akhlaknya, ini adalah plus kedua. Dan beberapa orang, setelah berjilbab, menjadi lebih cantik penampilannya, ini adalah bonus. Tapi cantik perilakunya, itu adalah buah manis. Ikuti mode, tentu saja boleh. Bersikap tegas, tentu saja boleh, Satu lagi, jangan galak-galak, ya? :-) . Asyik-asyik aja gitu..hehe
(Ekky al-Malaky P, penulis buku “Protes, Protes, Protes!”)


*Cewek berjilbab itu kayak kue yang dibungkus plastik. Kesannya lebih mahal. Beneran. Sumpah! (Adji, penulis buku “Pelangi Hati dan Will U Marry Me?”)

*RUMAH SAKIT! Begitu yang terlintas di kepala, setiap aku ketemu sama cewek berjilbab. Lho, apa hubungannya? Jelas ada! Rumah sakit selalu berada dalam keadaan steril. Begitu juga cewek berjilbab, steril dari keinginan laki-laki untuk memandang secara berlebih-lebihan. Kecuali keinginan untuk….menikahi! Hihihi..maklum dah, namanye juga masih jomblo! (Denny Prabowo, penulis buku “Pemuda dalam Mimpi Edelwiss”)


*Aku suka cewek centil dan pinter. Suka ngelaba-ngelaba kecil. But, With Jilbab, serasa ada jarak yang enggan kutembus. Berjilbab means dia komit penuh to what she trust. aku jadi hormat. (Wedha, Ilutrator dan Desainer)

*Di mata saya, Jilbaber itu menghadirkan rasa adem, kagum, pokonya semua yang baik-baik hadir di perasaan saya setiap lihat jilbaber. Ada nilai plusnya-lah. terlebih, saya langsung merasa sebagai saudaranya, jangankan mau macam-macam, orang lain yang menggoda pun, sepertinya saya ingin turun tangan untuk menjaganya. Didepan mata saya, nggak boleh ada yang mengganggu dia, karena dia telah menjaga dirinya dengan menunjukkan identitasnya sebagai muslimah, sebagai saudara saya. Jadi kalo ada yang menggoda nakal, iseng, ataupun macam-macam sama jilbaber, berarti dia harus bwerhadapan denagn saya..:-)
(S. Gegge Mappanegawa, penulis buku “Kupu-Kupu Rani”)

*Ya, kalo menurut pribadi ali sendiri, selain seneng karena hari gini masih ada cewek berjilbab yang mau mjaga auratnya, cewek berjilbab itu lebih sejuk ada dilihatnya, selain juga menjauhkan cowok dari pandangan yang ga semestinya. Tapi nggak ngilangin juga unsur-unsur seninya, karena seni itu indah. Dan Allah suka akan keindahan. (Ali Ichsan, Ilustrator)


*Jibab itu bikin cewek keliatan cakep, asal makenya bener. Jadi, kita mandangnya nggak macem-macem. Cewek yang berjilbab rapi lebih enak diajak berinteraksi. (Koko Nata, penulis buku “No Hp No Cry”)

*Salam Jilbab, kalo menurut gue, cewek yang memakai jilbab itu keren baget lho (lebih-lebih dipandang pake kacamata Islam). Tapi yang enggak enaknya kalo ngeliat cewek sekarang berjilbab tidak pada tempatnya. Memakai jilbab sekaligus mengenakan pakaian super ketat, sehingga lekuk-lekuk tubuhnya membayang. Kan sama aja tuh! Lagipula gue kurang setuju jilbab sering dimodis-modisin, sehingga cenderung mengundang hasrat negatif. Segitu aja. Bagi cewek berjilbab; “berjilbablah selayaknya berjilbab!” (Rifan)

*Cewek berjilbab tau menghargai dirinya. Dia juga bikin cowok deg-degan. Soalnya makin banyak misterinya. (Gola Gong, penulis buku “Hari Senjakala”)

*Jilbab tak pernah mampu menyembunyikan kecantikan seorang wanita. Jilbab justru makin mnegaskan kecantikan, kelembutan, kesalehan, dan pesona wanita.
(Irwan Kelana, Cerpenis, novelis, dan wartawan harian umum Republik)

*Gw suka banget ama cewek jilbab. Apalagi anaknya pinter. Tapi kadang suka risih kalo lyt cewek jilbab, gaun ketat, n bawahnya street. Tapi lagi gw nggak suka cewek jilbab ya terlalu gombrang gitu. Kesannya kayak emak-emak. Menurut gw, boleh dong pakai jilbab gaya, asal yg sesuai dengan syariat n yang keliatan rapi gitu lho. (Zainal Radar T, Cerpenis)